lihat semua

KALIMANTAN TIMUR RUHUI RAHAYU

Tue, 22 September 2020

Halo, Sobat Budaya!

Sobat Budaya wajib banget, nih mengenali lebih jauh Provinsi Kalimantan Timur! Provinsi yang akan menjadi ibukota baru Negara kita ini menyimpan banyak keunikan dan warna-warni budaya yang apik!

 

1. Patung Lembuswana Penjaga Mahakam

Memiliki belalai, bersayap, berkaki lembu, bertaji, dan berekor panjang. Nah, makhluk mitologi ini dikenal sebagai Lembuswana yang menjadi lambang keperkasaan raja-raja Kutai Kartanegara! Lembuswana ini juga dipercaya masyarakat sebagai tunggangan Raja Mulawarman—raja yang membawa Kutai Kartanegara menuju kejayaan. Salah satu patung Lembuswana ada di Pulau Kumala, pulaunya para wisatawan! Di sini, Patung Lembuswana baru direnovasi agar sesuai dengan deskripsinya dalam sejarah. Patung Lembuswana di pulau ini menghadap ke arah Jembatan Kutai Kartanegara yang berada di atas Sungai Mahakam. Dengan begitu, Lembuswana menjadi penjaga kawasan Sungai Mahakam, mengingat menurut legenda makhluk ini juga berasal dari sungai iconic ini!

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/pulau-kumala 

https://sains.kompas.com/read/2013/07/03/2355293/Lembuswana.Satwa.Mitologi.Sang.Kota.Raja

https://www.nativeindonesia.com/pulau-kumala/

 

 

2. Unsur Burung Enggang yang Tidak Pernah Absen dari Adat Dayak

Dayak Indonesia dan Malaysia Jalin Kerjasama Hadapi MEA - Tribunnews.com  Mobile

Pasti Sobat Budaya sudah tau kalau Kalimantan Timur menjadi tempat banyak suku-suku adat sehingga budayanya pun berwarna-warni banget! Tapi satu hal yang selalu muncul adalah unsur burung enggang. Bulu burung enggang yang rontok dijadikan sebagai hiasan kepala atau tangan dalam pakaian adat Dayak. Bahkan kepala burung enggang yang sudah mati dijadikan hiasan pada mahkota yang hanya digunakan oleh orang-orang terhormat di Suku Dayak. Selain itu, burung enggang juga menjadi simbol ritual gawai kenyalang dalam bentuk pahatan kayu. Burung enggang memang sangat amat berarti bagi Suku Dayak. Hewan ini disakralkan karena dianggap sebagai perwujudan Panglima Burung, yaitu sosok gaib yang tinggal jauh di hutan yang hanya muncul saat perang. Burung enggang juga menjadi simbol kepemimpinan, sayapnya yang lebar dan bunyinya yang nyaring menyimbolkan kekuatan dan keberanian. Dari segi alam, nih burung enggang berperan dalam regenerasi hutan berkat biji-bijian yang dijatuhkan saat membuang kotoran. Sistem pencernaan burung enggang memungkinkan biji-biji dari buah yang dimakan bertahan selama satu jam. Saat dikeluarkan, biji-biji ini kemudian tumbuh menjadi tanaman baru.  Makna yang mendalam bagi masyarakat Suku Dayak, kita jaga terus ya habitatnya!

https://www.borneos.id/5-pakaian-adat-khas-kalimantan-timur

https://mediaindonesia.com/read/detail/170782-enggang-dan-simbol-kepemimpinan-suku-dayak

https://travel.tempo.co/read/1264331/rahasia-enggang-burung-yang-terhormat/full&view=ok


 

3. Nuansa Istimewa Raja dengan Makan Sambal Raja

Sejarahnya, dulu sambal ini hanya dihidangkan untuk raja-raja Kutai Kartanegara dan keluarga! Karena khusus untuk bangsawan, tentu isi sambalnya engga cuma cabai. Di dalamnya juga terdapat sayur kacang panjang, terong ungu yang digoreng, telur rebus, dan dilengkapi jeruk nipis. Dengan isi yang lengkap, tetapi sambal raja ini hanya pendamping makanan, lho! Biasanya sambal raja dimakan bersama nasi bekepor, santapan yang dulunya juga eksklusif bagi para raja. Sekarang tentu sambal raja bisa dikonsumsi siapapun, bahkan sudah menjadi favorit! Mungkin melalui sambal raja, kita bisa merasakan sensasi menjadi raja dalam sekejap ya, Sobat Budaya!

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4048977/ketagihan-nikmatnya-sambal-raja-kutai

https://kaltimtoday.co/12-makanan-khas-kalimantan-timur-paling-recommended/

https://cookpad.com/id/resep/10040920-sambal-raja-kutai

 

 

4. Danau Zaman Prasejarah yang Menjadi Tempat Kerajaan Ubur-Ubur

https://i2.wp.com/holamigo.id/wp-content/uploads/2019/10/Holamigo-ubur-ubur-Danau-Kakaban.jpg?resize=770%2C577&ssl=1

Sobat Budaya mungkin juga sudah tau danau yang menjadi tempat jutaan ubur-ubur ini. Danau Kakaban di Atol (pulau karang) Kakaban yang masuk ke wilayah Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur menjadi tempat bagi ubur-ubur lucu yang tidak menyengat, lho! Tempat seperti ini cuma ada dua di dunia: Indonesia dan Palau, Kepulauan Mikronesia. Ada empat jenis ubur-ubur yaitu ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata), ubur-ubur totol (Mastigias papua), ubur-ubur kotak (Tripedalia cystophora), dan ubur-ubur bulan (Aurelia aurita). Mungkin heran, ya, kok di danau bisa ada ubur-ubur? Jadi pada masa peralihan Holosen, danau ini adalah air laut yang lama-kelamaan terjebak di Atol Kakaban. Air laut ini kemudian bercampur dengan air hujan dan air tanah sejak dua juta tahun lalu. Akhirnya segala biota laut di dalamnya beradaptasi menyesuaikan kondisi lingkungannya yang baru! Danau Kakaban terbuka untuk turis, lho, tapi dengan peraturan yang ketat demi menjaga kelestarian biota unik ini!

https://www.idntimes.com/travel/destination/intan-deviana-safitri/5-alasan-kamu-harus-ke-danau-kakaban-surganya-ubur-ubur-jinak-exp-c1c2/2

https://www.holamigo.id/liburan-unik-berenang-bersama-ubur-ubur-danau-kakaban/ 

 

 

5. Temui Banyak Buaya di Desa Teritip!

Sobat Budaya yang suka buaya, mengunjungi penangkaran buaya di Desa Teritip, Balikpapan pasti asyik, nih! Sudah berdiri sejak 1991, terdapat kurang lebih 1400 ekor buaya dari tiga jenis yang diternakkan, yaitu: buaya muara (Crocodylus porosus) yang jumlahnya paling banyak, buaya supit (Tomistoma schlegelii), dan buaya air tawar (Crocodylus siamensis). Penangkaran ini dibangun untuk tujuan budidaya, kembang biak, dan peternakan. Di sini kita juga bisa ikut mencoba memberi makan ikan atau ayam ke buaya-buaya yang lapar. Selain itu, beberapa kuliner yang ditawarkan juga cukup unik, lho! Berada di dekat buaya dan berhadap langsung, Sobat Budaya berani engga?

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/penangkaran-buaya-teritip

https://kaltim.idntimes.com/travel/destination/melani-indra-hapsari/penangkaran-buaya-teritip-sensasi-di-dekat-reptil-raksasa/1

 

 

6. Harapan Atas Terjaganya Lahan Tanam dalam Tari Hudoq

Hudoq, Seni Tari

Tari Hudoq dengan topeng dan kostumnya yang sangat mencuri perhatian ini berasal dari Suku Modang. Tarian ini biasanya diadakan ketika masyarakat Dayak ingin membuka lahan pertanian sehingga masyarakat meminta tolong para dewa dan roh untuk menjaga tanah tersebut. Jenis topeng atau hudoq yang dipakai ada tiga jenis: wujud babi atau monyet sebagai binatang hama, wujud elang sebagai pelindung panen masyarakat, dan wujud manusia sebagai simbol nenek moyang. Kostum yang dipakai penari terbuat dari daun dan dibuat seolah menempel pada badan penari. Menyaksikan Tari Hudoq secara langsung pasti seru banget ya, Sobat Budaya!

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/memohon-kepada-leluhur-lewat-tari-hudoq

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/hudoq/

http://encyclopedia.jakarta-tourism.go.id/post/hudoq--seni-tari?lang=id