lihat semua

SULAWESI TENGAH NOSARARA NOSABATUTU

Sat, 3 October 2020

 

Halo, Sobat Budaya!

Sulawesi Tengah banyak menyimpan permata indah di tanah, makanan, budaya, dan orang-orangnya. Yuk kita kenalan lebih jauh dengan Provinsi Sulawesi Tengah!

 

 

1. Monumen Tugu Gerhana Matahari Total

 

Tugu Gerhana Matahari

Sobat Budaya ingat, engga, kalau tahun 2016 lalu tepatnya tanggal 9 Maret bumi mengalami gerhana matahari total dan menariknya, kita bisa melihatnya dari Indonesia! Tepatnya di Kota Palu, Sulawesi Tengah, saat itu langit redup selama kurang lebih dua menit. Untuk menyambut peristiwa langka ini, pemprov Sulawesi Tengah membangun monumen di Anjungan Nusantara di pantai Teluk Palu. Lokasi ini dipilih karena disinilah fenomena gerhana matahari total terlihat jelas. Dengan ketinggian 7 m, Tugu Gerhana Matahari Total ini diresmikan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada tanggal 9 Maret 2016. Sekarang, monumen ini masih ramai dikunjungi, apalagi kalau weekend. Lokasinya yang ada di dekat pantai membuat pemandangan di sekitarnya jadi indah! Kapan-kapan kita kunjungi ya, Sobat Budaya!

https://news.detik.com/berita/d-3154591/tugu-gerhana-2016-dibangun-di-teluk-palu

https://wisato.id/wisata-budaya/tugu-gerhana-matahari-tugu-paling-iconic-di-palu/

https://keluyuran.com/tempat-wisata-di-palu/ 

 

 

 

 

2. Pusat Laut Donggala Yang Terlihat Ajaib

 

Sulit dipercaya, ya kalau itu adalah sumur alami! Seringnya disebut Pusat Laut Donggala—merupakan sumur raksasa yang lebarnya 10 m dan terletak di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Sumur ini disebut-sebut sebagai sumur alami terbesar di dunia, lho! Masyarakat setempat menyebutnya ‘Pusentasi’ yang artinya pusat laut karena memang air di dalam sumur ini berasal dari laut—makanya dikenal juga sebagai ‘Pusat Laut Donggala’. Oh iya, sumur ini punya kedalaman sekitar 7 meter tapi karena isinya adalah air laut, kedalamannya juga dipengaruhi pasang surut air laut. Meskipun begitu, tetap banyak orang berenang untuk menikmati keindahan dan kesegarannya. Dari kejauhan, air di dalam Pusat Laut Donggala terlihat seperti permata zamrud ya, Sobat Budaya! Wah kalau begini siapa, sih, yang engga tergoda untuk nyebur?

https://www.suara.com/lifestyle/2018/09/12/200000/pusat-laut-donggala-sumur-alami-yang-memesona-di-sulawesi-tengah?page=all

https://www.nativeindonesia.com/pusat-laut-donggala/

 

 

3. Uniknya Tambi, Rumah Tradisional Bertiang Mungil

Bangunan dengan atap besar dan tiang-tiang mungil ini adalah rumah tradisional Suku Lore dan Suku Kaili di Sulawesi Tengah yang disebut Tambi. Rumah dengan satu ruangan luas yang serbaguna ini dibuat sepenuhnya dari kayu—biasanya menggunakan kayu bonati—dan beratapkan daun rumbai. Di bagian bubungan atap juga dipasang tanduk kerbau sebagai ornamen. Pada dasarnya Tambi ini adalah rumah panggung, tapi beda dengan rumah panggung pada umumnya, Tambi punya tiang penyangga yang pendek! Bahkan beberapa tiang tingginya tidak sampai 1 m, lho! Tambi juga tidak ada struktur dinding, sehingga atap yang besar ini juga berfungsi sebagai dinding rumah. Bentuknya yang unik membuat Rumah Tambi terlihat lucu ya, Sobat Budaya!

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbgorontalo/pemugaran-rehabilitasi-cagar-budaya-bangunan-tradisional-tambi-dan-buho/

https://pewartanusantara.com/rumah-adat-provinsi-sulawesi-tengah-tambi/amp/ 

 

 

4. Labia Dange, Jajanan Favorit dari Sagu!

Bentuknya terlihat mirip jajanan lekker, ya? Namanya Labia Dange, jajanan khas Sulawesi Tengah yang bahan dasarnya sagu. Dalam bahasa setempat, ‘labia’ artinya sagu dan ‘dange’ artinya panggang. Pembuatannya mirip dengan surabi bandung, yaitu dibakar di atas wajan dan tungku dari tanah liat. Biasanya labia dange diisi gula merah yang setelah dibakar akan meleleh di mulut. Sekarang isian labia dange lebih bervariasi sesuai selera dan popularitas rasa. Kalau Sobat Budaya ke Sulawesi Tengah wajib, nih jajan labia dange!

https://jejakpiknik.com/makanan-khas-sulawesi-tengah/

https://merahputih.com/post/read/labia-dange-olahan-sagu-terkenal-dari-sulawesi-tengah

 

 

5. Berburu Peninggalan Megalitikum di Lore Lindu

https://jelajah-kompas-id.azureedge.net/wp-content/uploads/sites/243/2018/10/20171007VDL11-1024x711.jpg

Indonesia menjadi salah satu tempat di dunia untuk melihat jejak purbakala. Selain Sangiran di Jawa Tengah, Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Sulawesi Tengah juga menyimpan sisa jejak purbakala, lho! Justru situs purbakala ini yang menjadi salah satu alasan utama ditetapkannya TNLL menjadi cagar biosfer oleh UNESCO pada tahun 2019 lalu. Di sini khususnya di Lembah Besoa Bada, Palu, dan Napu, kita bisa menemukan ratusan rumah, perkakas, kuburan, dan arca batu era megalitik. Peradaban purba di lembah ini hidup dengan pola bercocok tanam dengan membuka lahan yang terjadi sekitar 3500 tahun lalu. Diperkirakan peradaban manusia berkaitan dengan bangsa Austronesia yang migrasi dari Taiwan dan pantai Cina bagian selatan. Mengunjungi TNLL dan melihat langsung peninggalan purbakala tentu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan ya, Sobat Budaya!

https://travel.tempo.co/read/1230496/berpetualang-di-lore-lindu-berburu-situs-megalitik/full&view=ok

https://jelajah.kompas.id/ekspedisi-cincin-api/baca/kehidupan-dan-kematian-di-lembah-besoa/ 

 

 

6. Tradisi Pendewasaan, Nokeso dan Neloso

Tradisi coming of age atau melepas masa anak-anak mungkin agak jarang di Indonesia—tapi bukan berarti tidak ada! Masyarakat adat Salena dari Suku Kaili Unde punya tradisi yang namanya Nokeso dan Neloso. Nokeso adalah upacara menggosok atau pemotongan gigi menggunakan batu khusus. Jadi, ketika anak berusia 12 tahun, mereka wajib melewati tradisi ini. Selama berjalannya tradisi, mereka disebut sebagai Toniasa berasal dari kata ‘tona nipaka asa’ yang berarti didewasakan. Tahapan prosesinya diawali dengan “mengurung” toniasa di sebuah tempat yang disebt song’i dan dididik dengan sejumlah peraturan adat selama sekian waktu. Selanjutnya toniasa digendong ke sungai untuk dimandikan dan mengenakan pakaian adat. Setelah itu dilakukan tradisi Nokeso dan dilanjutkan tradisi Neloso, yaitu ketika toniasa berjalan di bawah kain mengelilingi halaman balai adat (bantaya) dan sesembahan. Wah panjang juga, ya prosesnya!

https://sulsel.idntimes.com/life/education/ahmad-hidayat-alsair/mengenal-nokeso-tradisi-melepas-masa-remaja-di-sulawesi-tengah/3