lihat semua

SULAWESI SELATAN TODO POLI

Sat, 3 October 2020

Halo, Sobat Budaya!

Provinsi Sulawesi Selatan menjadi tempat masyarakat yang warna-warni. Segalanya unik di sini—budayanya, geografisnya, masyarakatnya, hingga flora dan faunanya. Yuk kenalan lebih jauh dengan Sulawesi Selatan!

 

1. Atol Terbesar Ketiga di Dunia Ada di Sini!

Kebanyakan atol atau pulau karang di dunia memang terletak di wilayah Samudra Pasifik. Tapi Sobat Budaya tau, engga, sih kalau Indonesia menjadi lokasi pulau karang terbesar ketiga di dunia? Taman Nasional Taka Bonerate di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan menjadi kawasan atol terbesar ketiga di dunia dengan luas 220 ribu hektar dan 500 km2 sebaran terumbu karang! TN. Taka Bonerate dalam bahasa Bugis berarti hamparan karang di atas pasir dan telah membentuk ekosistem flora dan fauna langka. Engga heran kalau TN. Taka Bonerate ditetapkan menjadi cagar biosfer oleh UNESCO sejak 2015. Engga perlu ditanyakan lagi kalau Kawasan TN. Taka Bonerate sudah menjadi magnet untuk diving dan snorkeling. Yang unik, ada yang namanya Pulau Tinabo yang memungkinkan kita untuk berinteraksi langsung dengan anakan hiu jenis blacktip, lho! Sobat Budaya yang suka mantai, wajib masukin ke bucket list, ya!

https://www.mongabay.co.id/2018/11/03/lost-in-paradise-di-taka-bonerate/

https://merahputih.com/post/read/atol-terbesar-ketiga-di-dunia-ada-di-sulawesi-selatan 

 

 

2. Sulawesi Selatan Surganya Satwa Endemik Indonesia

Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah peralihan yang artinya banyak flora dan fauna di sini merupakan endemik Indonesia! Salah satunya adalah Burung Julang (Aceros cassidix) atau Taong. Yang membuat burung ini unik dan cantik adalah cula di atas paruhnya—cula merah dan berukuran besar untuk jantan dan cula kuning dengan ukuran lebih kecil untuk betina. Dengan begini, gambar sepasang burung julang di atas mungkin bisa kita asumsikan sebagai pasangan, ya! Oh iya, keberadaan burung ini bisa menjadi penanda hutan yang masih alami yang masih memiliki banyak pohon-pohon besar. Hal ini karena mereka bersarang dengan melubangi pohon besar yang lalu ditutupi lumpur. Makanan utama burung julang cukup beragam mulai dari buah hingga hewan kecil seperti kadal dan tikus. Burung ini juga membantu regenerasi hutan berkat biji-biji dari sisa buah yang dimakan. Sekarang keberadaan burung endemik Sulawesi ini sangat langka. Maka dari itu, kita harus melestarikan habitatnya agar burung julang tidak punah!

https://sulsel.idntimes.com/science/discovery/arifina/salah-satu-fauna-endemik-sulsel-ini-5-fakta-tentang-burungjulang/4

https://www.mongabay.co.id/2014/03/01/julang-sulawesi-si-cantik-semakin-terancam-perburuan-liar/

 

 

3. Pemandangan Memukau dari Patung Yesus Buntu Burake

Berdiri tegak setinggi 45 m, Patung Yesus Buntu Burake ini disebut-sebut yang tertinggi di dunia jika diukur dari permukaan laut. Patung ini letaknya di puncak bukit Buntu Burake dengan ketinggian 1700 mdpl, Kota Makale, Tana Toraja. Patung Yesus Memberkati yang ada di Brazil berdiri setinggi 38 m di puncak Gunung Corcovado dengan tinggi 710 mdpl. Patung yang dibangun pada tahun 2015 ini kini menjadi tempat wisata religi yang juga menawarkan pemandangan indah Kota Makale. Oh iya, di kawasan ini juga dibangun jembatan kaca pada tahun 2018, lho! Tentu keberadaan jembatan kaca ini semakin menambah daya tarik wisata di tempat ini. Sobat Budaya yang ingin mengunjungi, tentu tentu butuh tenaga ekstra, ya, karena tempatnya yang di puncak bukit!

https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-4274316/bukan-brasil-patung-yesus-tertinggi-dunia-ada-di-toraja

https://infotoraja.com/wisata/patung-yesus-memberkati-di-buntu-burake/

https://www.liputan6.com/regional/read/3452343/berwisata-religi-di-buntu-burake-sensasi-brasil-di-tana-toraja


 

4. Merawat Keluarga yang Sudah Tiada Melalui Ritual Ma’Nene

Sobat Budaya pasti tau satu atau dua hal tentang budaya Tana Toraja di Sulawesi Selatan yang unik. Ada salah satu ritual yang mana anggota keluarga membersihkan jasad leluhur yang sudah lama meninggal. Ritual yang biasanya dilakukan serentak satu desa ini diawali dengan anggota keluarga mendatangi tempat pemakaman para leluhur, Patane untuk mengambil jasad anggota keluarganya. Nah setelah itu, jasad dibersihkan dan diberi pakaian baru—jas rapi untuk pria dan gaun pengantin untuk wanita. Setelah itu, jasad dibungkus dan dimasukkan lagi ke Patane. Ritual diakhiri dengan Sisemba, yaitu silaturahmi keluarga dengan makanan dari anggota keluarga yang meninggal. Bagi masyarakat Toraja, ritual Ma’nene ini dimaknai untuk selalu merawat dan menjaga anggota keluarga, meski sudah dipisahkan oleh dua dunia sekalipun. 

https://nationalgeographic.grid.id/read/131834324/manene-toraja-ritual-mayat-ratusan-tahun-berganti-pakaian

https://kumparan.com/kumparantravel/mengenal-manene-ritual-mengganti-pakaian-mayat-di-toraja-sulawesi-selatan-1tBLo7QWmt8 


 

5. Situs Megalitik di Bori Kalimbuang

 

Membicarakan masyarakat dan kebudayaan Toraja di Sulawesi Selatan memang engga ada habisnya. Masyarakat Toraja sangat memaknai kematian anggota keluarga, sehingga banyak upacara dan ritual Toraja yang menyangkut kematian. Salah satunya bisa kita lihat dari Situs Bori Kalimbuang. Selain jadi tempat pelaksanaan upacara dan penguburan, juga tempat 102 batu-batu menhir yang disebut Batu Simbuang. Nah, proses ini hanya dilakukan kalau diadakan ritual Rapasan Sapurandanan dalam upacara pemakaman Rambu Solo untuk orang yang meninggal. Pada ritual ini, minimal 24 ekor sapi harus dikurbankan, sehingga yang biasanya melakukannya adalah pemimpin adat. Oh iya kalau diperhatikan, di sekeliling menhir ini ada bangunan tradisional khas Toraja, tapi dalam ukuran kecil—itu adalah tempat peti jenazah saat upacara Rambu Solo. Menarik juga ya, Sobat Budaya!

https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-3052307/desa-bori-situs-warisan-unesco-di-t raja

https://kumparan.com/kumparantravel/bori-kalimbuang-situs-batu-berdiri-ala-toraja-yang-mirip-stonehenge-1551066526850371627/full

https://travel.detik.com/domestic-destination/d-2662002/ini-barisan-menhir-paling-eksotis-di-tana-toraja

 

 

6. Batu Lemo, Tempat Menyimpan Jenazah di Tana Toraja

https://www.pegipegi.com/travel/wp-content/uploads/2019/03/2-Tau-tau.jpg

Mungkin sampai di sini Sobat Budaya sudah bisa paham kalau kematian bagi masyarakat Toraja bukan sesuatu yang menakutkan. Kematian anggota keluarga juga tidak serta merta dianggap sebagai perpisahan. Satu lagi tradisi yang berkaitan dengan kematian pada masyarakat Toraja, adalah Batu Lemo. Di dalam tebing-tebing karst yang tinggi ini menjadi tempat penyimpanan peti jenazah. Masyarakat Toraja mempercayai kalau tempat makam seseorang tinggi, berarti makin dekat dengan Tuhan. Makanya tebing tinggi ini dijadikan kompleks pemakaman. Di beberapa rongga pada Lemo ini ditempatkan patung kayu bentuk manusia—yang meski terlihat unik dan lucu, tapi sangat amat larang disentuh—yang disebut Tau-tau. Patung-patung ini dibuat menyerupai orang yang disemayamkan di dalam tebing dan bertujuan supaya rohnya tetap abadi tersimpan di sana. Wah terkesan angker, ya, Sobat Budaya!

https://www.pegipegi.com/travel/5-tradisi-pemakaman-yang-sakral-dan-unik-di-tana-toraja/ 

https://www.inews.id/travel/destinasi/batu-lemo-toraja-wisata-angker-yang-banyak-dikunjungi-turis-2