lihat semua

PAPUA KARYA SWADAYA

Tue, 6 October 2020

Halo, Sobat Budaya!

 

Provinsi Papua menjadi provinsi paling timur di Indonesia serta menjadi tempat keunikan dan warna-warni budaya, tradisi, dan masyarakatnya. Yuk kenali lebih jauh Bumi Cenderawasih!

 

1. Nikmatnya Kue Lontar, Kudapan Favorit di Papua

Membicarakan makanan khas Papua engga cuma papeda dan ulat sagu aja, nih. Ada juga olahan pastry yang cukup populer, Kue Lontar namanya! Bentuknya terlihat seperti potongan pie susu yang ada di Bali dengan ujung yang renyah dan tekstur lembut di bagian tengah, tapi kue lontar biasanya dibuat lebih besar dan lebih tebal. Kue lontar ini dibawa oleh Belanda dengan sebutan londtart atau kue bundar yang lama-kelamaan disebut sebagai ‘lontar’ oleh masyarakat setempat. Kue lontar biasanya dibuat untuk perayaan hari-hari besar seperti Natal dan Lebaran! Kalau ke Papua wajib dicoba ya, Sobat Budaya!

https://zonamakan.com/makanan-khas-papua/

https://merahputih.com/post/read/kue-lontar-pie-susu-khas-tanah-cendrawasih 
 

 

2. Papua Menjadi Tuan Rumah Pekan Olahraga Nasional XX! 

Pekan Olahraga Nasional atau PON XX akan diselenggarakan di Provinsi Papua, lho! PON XX akan dilaksanakan di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Mimika dengan 37 cabang olahraga yang ditandingkan. Nah, sudah kenalan dengan logo dan maskotnya belum? Untuk logo, digunakan bentuk Stadion Papua Bangkit—stadion megah di Papua dengan standar FIFA! Stadion ini sudah menjadi kebanggaan masyarakat Papua, lho. Nah sedangkan untuk maskot, menggunakan dua satwa khas Papua yang diberi nama Drawa dan Kangpho! Drawa sendiri adalah burung cenderawasih dan Kangpho adalah singkatan dari kanguru pohon. Drawa dan Kangpho sama-sama memakai pakaian tradisional Papua yang menjadi identitas masyarakat. Untuk Sobat Budaya yang sudah engga sabar untuk nonton, kalau sesuai jadwal, sih seharusnya akan mulai 20 Oktober 2020. Tetapi Sobat Budaya harus bersabar hingga tahun depan, ya karena PON XX diundur menjadi 21 Oktober 2021! Tahun depan ketika menonton, jangan lupa ikuti jargonnya, “Torang Bisa!” ya!

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/15/yuk-kenalan-sama-maskot-pon-papua-2020

https://kominfo.go.id/content/detail/20906/pon-2020-di-papua-tandingkan-37-cabang-olahraga/0/berita

 

 

3. Tato Sebagai Lambang Kecantikan dan Pekerja Keras

Tato Jadi Lambang Kecantikan Perempuan Adat di Papua - kumparan.com

Bagi perempuan di wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Waropen, tato menjadi lambang kecantikan. Selain kecantikan, tato pada perempuan juga melambangkan pekerja keras. Tradisi tato yang sekarang mulai pudar ini berasal dari tradisi orang Austronesia dari Asia yang migrasi ke Papua sekitar 3000 tahun lalu. Tato tradisional ini dibuat dengan arang, jarum jahit, dan getah langsat atau bisa juga daun bobo supaya warnanya tahan lama. Memang terkesan agak menyakitkan, ya. Tapi justru itu menjadikannya spesial. Selain itu juga makna motif tato yang dipilih biasanya hanya dimengerti oleh si pemilik dan pembuat tato. Sobat Budaya yang perempuan ingin mencoba tato tradisional khas Papua, engga, nih?

https://kumparan.com/bumi-papua/tato-jadi-lambang-kecantikan-perempuan-adat-di-papua-1sSzvzGAIKx/ful

 

 

4. Sampai Jumpa 70 Tahun Lagi di Monumen Kapsul Waktu!

Bukan, bukan markas para Avengers. Cerita bangunan ini dimulai 22 September 2015 lalu ketika sebuah ekspedisi yang disebut ‘Ekspedisi Kapsul Waktu’ dimulai. Ekspedisi ini mengelilingi Indonesia dan mengumpulkan 7 mimpi anak-anak bangsa untuk dimasukkan ke Monumen Kapsul Waktu, Merauke, Papua. Iya, bangunan yang mirip markas pahlawan super ini adalah kapsul waktu! Monumen ini akan dibuka 70 tahun lagi oleh penerus kita semua! Monumen ini dibangun oleh Yori Antar, sang arsitek dengan unsur budaya Papua. Kapsul Waktu ditempatkan di atas tugu yang terinspirasi Menara perang Suku Dani. Terdapat 5 pintu masuk bangunan yang merepresentasikan kelima suku asli Merauke yaitu Malind, Muyu, Mandobo, Mappi, dan Auyu. Selain itu, di dalam bangunan juga dihias dengan relief sejarah Indonesia, Pancasila, dan budaya Papua. Tujuh puluh tahun setelah 2015 berarti tahun 2085. Di tahun 2085 nanti, Sobat Budaya umur berapa, nih? 

https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-46231990 

https://pu.go.id/berita/view/16385/monumen-kapsul-waktu-di-merauke-siap-diresmikan-oleh-presiden-jokowi

 

 

5. Festival Lembah Baliem, Acara Perang Tiga Suku yang Menjadi Magnet Turis!

Berbeda dengan festival pada umumnya yang diisi parade, lomba, dan bazar, festival ini menawarkan pengalaman unik yang cuma bisa ditemui di Lembah Baliem, Jayawijaya, Papua! Festival Lembah Baliem menampilkan acara perang yang menjadi simbol kesuburan dan kesejahteraan antara tiga suku: Suku Dani, Suku Lani, dan Suku Yali. Tapi tenang kok, meski menggunakan senjata tradisional perang seperti tombak, busur, dan anak panah, festival ini banyak diisi tarian-tarian kolosal dari masing-masing suku. Kegiatan “perang suku Dani” pun oleh para antropolog disebut lebih sebagai tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya. Festival yang diadakan tiap bulan Agustus ini diadakan selama tiga hari dan dimeriahkan dengan Pesta Babi yang dimasak di bawah tanah. Selain itu juga terdapat pernik-pernik tradisional yang dipamerkan atau dijual oleh masyarakat dari masing-masing suku. Untuk ke Lembah Baliem memang butuh sedikit perjuangan karena lokasinya di dataran tinggi dengan akses yang masih agak sulit. Tapi kalau sudah sampai, pemandangan yang disuguhkan ditambah meriahnya festival dan keramahan masyarakatnya pasti sepadan banget!

https://www.pesonaindo.com/tours/festival-lembah-baliem-wamena/

https://akurat.co/news/id-275408-read-siapsiap-festival-lembah-baliem- 

 

 

6. Belanja dengan 2 Mata Uang di Skouw!

Sobat Budaya, tinggal di daerah perbatasan tentu ada sensasinya sendiri, ya! Salah satunya pasti lebih banyak terekspos dengan masyarakat dan kehidupan negara tetangga. Sama seperti di pasar sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Kota Jayapura, Papua. Di pasar ini, kita bisa belanja menggunakan mata uang Indonesia, Rupiah dan mata uang Papua Nugini, Kina. Pasar ini memang menjadi salah satu tujuan belanja orang-orang dari dua negara sekaligus—Indonesia dan Papua Nugini. Dari Papua Nugini, yang biasa belanja di sini adalah warga dari Vanimo dan Wutung. Tapi kini, dalam upaya pemerintah untuk menggalakkan peraturan penggunaan mata uang rupiah di seluruh wilayah NKRI dalam transaksi, penggunaan mata uang kina sudah mulai jarang dilakukan. 

https://www.liputan6.com/regional/read/2459207/unik-pasar-tradisional-ini-gunakan-2-mata-uang-dan-2-bahasa

https://kabarpapua.co/masih-pakai-uang-kina-di-perbatasan-papua-ini-sanksinya/