lihat semua

GORONTALO ADATI HULA HULA A TO SYARA

Fri, 2 October 2020

 

Halo, Sobat Budaya!

Kali ini kita ke Provinsi Gorontalo, nih! Gorontalo menjadi salah satu provinsi dengan banyak pantai indah, tapi masih jarang diketahui orang awam. Selain pantai, apa lagi, sih keunikan provinsi yang satu ini? Yuk kenali lebih jauh warna-warni budaya Provinsi Gorontalo!

 

1. Karawo, Keterampilan Tradisional Khas Gorontalo

 

Dalam Bahasa Gorontalo, karawo berarti ‘sulaman dengan tangan’. Seni membuat karawo, atau mokarawo sudah dilakukan oleh wanita Gorontalo sejak lama dan secara turun-temurun. Biasanya nih, dibutuhkan waktu 1-2 minggu untuk menyelesaikan karawo karena memang butuh ketelitian dan ketekunan yang tinggi. Ada 5 tahap pembuatan kain sulam karawo. Diawali dengan desain motif, lalu kain diiris berdasarkan desain motif yang sudah dibuat. Dilanjutkan dengan proses menentukan keberhasilan karawo: mencabut serat kain. Kalau sampai gagal, kain menjadi rusak dan engga bisa dipakai lagi sehingga yang biasanya mengerjakan bagian ini adalah yang paling terampil. Setelah itu, serat kain diikat membentuk pola seperti strimin. Terakhir, kain disulam sesuai motif pola. Wah prosesnya lumayan butuh kesabaran dan ketekunan ya, Sobat Budaya! Mencoba membuat sulam karawo sepertinya menantang, nih!

https://www.genpi.co/gaya-hidup/4125/mengenal-karawo-kain-sulam-gorontalo

http://rumahkarawo.com/karawo/

http://www.grandqhotelgorontalo.com/index.php/gorontalo_festivals/festival-kerawo 

 

 

2. Segarnya Es Brenebon, Primadona Menu Buka Puasa

Kalau lagi panas-panas enaknya sih minum es. Sensasi dingin dan manisnya pasti langsung bikin seger! Di Gorontalo, ada yang namanya Es Brenebon. Brenebon dalam bahasa Gorontalo berarti ‘kacang merah’, sesuai dengan bahan utama es ini, yaitu kacang merah yang sudah direbus. Selain kacang merah, es brenebon juga dikreasikan dengan ditambah puding, sirup, dan bermacam-macam buah yang membuatnya makin menyegarkan! Biasanya es brenebon ramai dijumpai pada Bulan Ramadhan untuk buka puasa. Wah setelah seharian menahan dahaga, berbuka dengan es brenebon pasti seger banget ya! 

https://www.idntimes.com/food/recipe/afifah-khoirunnisa/segarnya-es-brenebon-khas-gorontalo-bisa-kamu-buat-di-rumah-c1c2

https://www.celebes.co/makanan-khas-gorontalo

 

 

3. Gorontalo Akan Bersinar Menjelang Lebaran!

 

H-3 Lebaran biasanya pasti sibuk masak besar, bersih-bersih rumah, dan memasukkan kue ke stoples cantik yang hanya dikeluarkan setahun sekali. Di Gorontalo, masyarakat juga akan disibukkan dengan Tradisi Tumbilotohe—tumbilo artinya ‘memasang’, tohe artinya ‘lampu’. Dari Magrib hingga Subuh selama tiga hari, masyarakat akan menyalakan lampu tradisional Gorontalo (tohetutu) sepanjang jalan, dinding, hingga atap. Tohetutu dibuat dari cangkang kerang, tempurung kelapa, atau botol kaca. Bahan bakarnya bisa dari getah damar, minyak kelapa, atau bahkan minyak tanah biasa. Tradisi yang sudah ada sejak abad ke-15 ini bermakna jiwa dan hati harus kembali bersih dan bercahaya layaknya lampu menjelang datangnya Idul Fitri. Oh iya, tidak jarang juga masyarakat membuat formasi atau bentuk-bentuk tertentu dari lampu-lampu ini! Indah juga ya, Sobat Budaya!

https://kumparan.com/kumparantravel/tumbilotohe-tradisi-malam-seribu-cahaya-jelang-lebaran-di-gorontalo-1rCEJZ2Kgcf

https://ezeepoints.id/tumbilotohe-tradisi-unik-warga-gorontalo-menjelang-idul-fitri/ 

 

 

4. Jejak Portugis di Gorontalo

https://wisato.id/wp-content/uploads/2020/04/Benteng-Otanaha3.jpg

Benteng Otanaha namanya, letaknya jauh di atas bukit di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat dan bersebelahan dengan Danau Limboto. Benteng ini menjadi saksi datangnya Portugis ke tanah Gorontalo. Nama Otanaha berasal dari kata ota yang berarti ‘benteng’ dan Naha yang merupakan nama putra Raja Ilato yang menemukan kembali benteng ini. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1522 dan merupakan kesepakatan Raja Ilato dan Bangsa Portugis sebagai benteng pertahanan dari musuh. Tetapi, Portugis malah melanggar kesepakatan dan ingin menguasai Gorontalo, yang berujung kegagalan di pihak Portugis. Kalau Sobat Budaya ingin ke benteng ini, harus kuat fisik, ya karena harus menaiki 351 anak tangga! Tapi engga non-stop, kok. Terdapat 4 titik persinggahan untuk beristirahat. Oh iya, salah satu keunikan benteng ini adalah penggunaan putih telur burung maleo sebagai bahan perekat benteng! Kreatif juga ya!

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/benteng-otanaha-mengenang-jejak-portugis-di-tanah-gorontalo

https://wisato.id/wisata-budaya/mengenang-jejak-portugis-di-benteng-otanaha-gorontalo/ 

 

 

5. Bela Diri Longgo dan Langga

Mungkin Sobat Budaya belum pernah dengar yang namanya Longgo dan Langga. Nah jadi, keduanya ini adalah seni bela diri dari Gorontalo! Seni Bela diri ini sudah ada kira-kira sejak abad ke-16. Menurut cerita rakyat, seni bela diri ini diperkenalkan oleh seorang ulama, Ju Panggola yand diberi gelar Raja Ilato dan memiliki kekuatan gaib. Ada perbedaan nih antara Longgo dan Langga; Langga merupakan bela diri yang tidak menggunakan senjata, sementara Longgo menggunakan senjata tajam. Langga biasanya dipelajari oleh perempuan sedangkan Longgo biasanya dipelajari oleh laki-laki. Oh iya, seni bela diri ini juga ada versi tarian tradisionalnya, lho! Menyaksikan versi bela diri dan versi tarian sepertinya akan seru, nih!

https://kumparan.com/banthayoid/mengenal-langga-dan-longgo-bela-diri-khas-gorontalo-sejak-abad-ke-16-1s7ggyyrRZr/full

http://pidii.info/index.php?option=com_k2&view=itemlist&layout=category&task=category&id=143&limitstart=70

 

 

6. Berenang Bersama Hiu Paus di Botubarani

Sobat Budaya pernah engga sih memikirkan bagaimana rasanya berenang langsung bersama hiu paus? Nah, di Gorontalo tepatnya di Pantai Botubarani, kita bisa bertemu bahkan berenang dengan hewan langka ini, lho! Kemunculan hiu paus (Rhincodon typus) di Pantai Botubarani biasanya pada bulan Mei dan Juni sehingga pada bulan-bulan itulah ramai turis dari dalam maupun luar negeri. Hiu paus mendatangi Botubarani karena adanya sisa-sisa udang yang dihempaskan ke laut dari kegiatan bisnis lokal yang memproduksi udang. Nah oleh karena itu, hiu paus mendatangi Botubarani untuk mencari makan. Hiu paus termasuk hewan yang tenang dan tidak berbahaya bagi manusia. Tapi kita tetap harus berhati-hati dan jangan mengganggu ruang gerak hiu paus, ya!

https://foto.kompas.com/photo/read/2019/4/22/15559023606e0/1/hiu-paus-di-botubarani-gorontalo-yang-memikat-wisatawan

https://gopos.id/hiu-paus-di-pantai-botubarani-muncul-lagi-jumlahnya-5-ekor/