lihat semua

DKI JAKARTA JAYA RAYA

Tue, 22 September 2020

 

DKI Jakarta—provinsi sekaligus ibukota Negara—menjadi wilayah urban terbesar di Indonesia, dan bahkan masuk ke dalam jajaran yang terbesar di dunia! Pasti tiap orang Indonesia tau satu atau dua hal tentang DKI Jakarta. Di tengah urbanisasi yang kian pesat, yuk kita kenalan dengan budayanya!

  1. Segarnya Es Selendang Mayang Yang Underrated!

Musim panas paling nikmat kalau sambil ditemani minuman dingin. Jajanan kaki lima ini dibuat dengan bahan dasar tepung beras dan tepung sagu aren, isian es selendang mayang terlihat mirip dengan puding. Warnanya juga cantik, lho! Terdiri dari tiga warna yaitu putih, merah, dan hijau. Minuman ini biasanya akan disajikan dengan memotong-motong kue selendang mayang menjadi persegi tipis. Setelah itu diberi siraman air gula aren, santan, dan es batu. Mumpung lagi musim panas seperti sekarang pasti segar banget ya, Sobat Budaya! 

https://www.kompas.com/food/read/2020/06/17/091809175/resep-es-selendang-mayang-khas-betawi-minuman-segar-penghalau-panas?page=all(foto juga)

https://www.genpi.co/travel/35667/nikmatnya-es-selendang-mayang-khas-betawi-ini-resepnya

  1. Jamming ke Musik Orkes Tradisional Tanjidor

 

Pernah engga, sih Sobat Budaya hadir ke acara hajatan tetangga atau saudara lalu disambut asiknya musik Tanjidor? Musisinya pun lengkap, ada yang pegang klarinet, piston, trombon, saksofon tenor, saksofon bas, drum, simbal, dan tambur. Yang unik, alat musik yang dimainkan biasanya sudah melalui berbagai generasi jadi  kualitas suara yang dihasilkan engga sebagus dulu. Sejarah orkes Tanjidor sendiri ada dua versi. Ada yang bilang dari Portugis (Bahasa Portugis ‘tanger’ atau ‘tangedor’), ada juga yang bilang berasal dari kebiasaan pesta orang Belanda yang memiliki musisi pribadi masyarakat Indonesia. Kini, orkes tanjidor sering ditemui di acara pernikahan dan untuk menyambut tamu agung. Sobat Budaya yang orang Betawi, bisa main alat musik tanjidor engga, nih? Nanti ajarin, ya! 

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20190622010650-241-405464/orkes-tanjidor-betawi-pengiring-dansa-para-tuan-tanah

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/tanjidor

  1. Baju Pangsi Betawi, Bajunya Para Jawara

 

Pasti sering, ya melihat baju ini di serial-serial sitkom Indonesia. Biasanya, sih dipakai bapak-bapak Betawi. Baju Pangsi namanya—atau lengkapnya Baju Tikim dan Celana Pangsi. Baju pangsi ini tidak hanya ada di Betawi, tapi juga ada di masyarakat Sunda—meski ada perbedaan di warna, desain, dan asesoris. Baju pangsi ini kemudian sering dipakai oleh para jago silat yang ilmunya sudah tinggi, makanya baju ini sering juga disebut “pakaian jawara”. Pelengkap baju pangsi Betawi biasanya berupa peci, sabuk kopel haji, dan sarung yang dikalungkan. Fun fact, sarung ini engga cuma sebagai hiasan, lho tapi juga dijadikan senjata oleh para jawara silat! Sobat Budaya kerasa gagah engga, nih, kalau pakai baju pangsi?

https://fitinline.com/article/read/filosofi-baju-pangsi-serta-perbedaan-antara-baju-pangsi-betawi-dan-sunda-yang-perlu-anda-ketahui/

https://sejarahjakarta.com/2019/05/24/sekelumit-kisah-baju-tikim-dan-celana-pangsi/

https://muda.kompas.id/baca/2018/07/04/mengenal-palang-pintu-tradisi-orang-betawi/

  1. Riuhnya Petasan Jadi Sarana Komunikasi

 

 

Dulu, jumlah penduduk ibukota sangat sedikit bahkan engga sampai 1 juta jiwa. Ini karena Belanda membangun Jakarta hanya untuk 800 ribu jiwa. Komunikasi antar warga jadi permasalahan karena jarak yang saling berjauhan dan masih dikelilingi hutan lebat. Nah dipakailah petasan—bukan, bukan untuk bakar hutan, tapi sebagai sarana komunikasi! Kalau ada warga di kampung sebelah yang menggelar hajatan, petasan rencengan akan dibunyikan sebagai tanda ada acara dan ingin mengundang orang banyak. Makin banyak petasan makin tinggi status sosial seseorang. Dulu juga ada 2 jenis petasan: petasan impor dari Jepang dan petasan lokal dari Parung. Petasan impor biasanya lebih laris meski harganya lebih mahal karena kualitas suara yang ditimbulkan lebih nyaring. Kini petasan memang membagi masyarakat ke dua jenis, ada yang suka dan ada yang tidak. Meskipun begitu,  petasan masih bisa ditemukan dalam acara-acara hajatan khususnya pernikahan yang menambah meriahnya acara!

https://www.liputan6.com/news/read/2919162/kepercayaan-mistis-dan-makna-budaya-petasan-di-betawi

https://republika.co.id/berita/od581r282/alasan-warga-betawi-harus-pasang-petasan-saat-hajatan-part2

http://www.koran-jakarta.com/anies-harapkan-jadi-ajang-silaturahmi-warga-jakarta/

  1. Maskot DKI Jakarta yang Sebenarnya

Monumen Nasional—meski sering dijadikan representasi DKI Jakarta—ternyata bukan maskot kota ini, lho! Sejak 1989, pemerintah setempat menetapkan elang bondol dan salak condet sebagai maskot ibu kota. Salak condet dipilih karena merupakan buah-buahan asli Jakarta yang dulu banyak ditemukan di kawasan Condet, Jakarta Timur. Tapi sayangnya sekarang sulit menemukan buah ini di Condet karena semakin banyaknya penduduk. Elang bondol (Haliastur indus) yang hanya bisa ditemukan di Kepulauan Seribu ini dipilih karena cara bertahan hidupnya ketika sudah tua yang tangguh dan penuh perjuangan. Jadi harapannya, Jakarta bisa selalu berjuang dalam menghadapi dinamisnya hidup. Oh iya, elang bondol juga menjadi maskot Asian Para Games 2018 yang diberi nama Momo, lho! Lucu ya, Sobat Budaya!

https://www.liputan6.com/news/read/3584381/elang-bondol-dan-salak-condet-2-maskot-jakarta-yang-termakan-waktu

https://bloggerjakarta.com/mengenal-maskot-jakarta-yang-sebenarnya/

https://gramho.com/media/2226087164792531425

  1. Kebun Binatang Pertama Indonesia di Cikini!

 

 

 

Kebun binatang pertama di Indonesia memang Kebun Binatang Ragunan yang lokasinya di Jakarta Selatan. Tapi dulu, awalnya berlokasi di Cikini, Jakarta Pusat! Sejarahnya jauh dimulai sejak Indonesia masih Hindia Belanda tahun 1864 ketika pelukis terkenal Indonesia, Raden Saleh menghibahkan tanah 10 ha untuk dijadikan kebun binatang bernama Planten En Dierentuin. Tahun 1949, namanya berubah jadi Kebun Binatang Cikini.  Lama-lama, jumlah flora dan fauna koleksi semakin bertambah sedangkan lokasi Cikini yang terletak di tengah kota tidak mendukung untuk perluasan kebun binatang. Akhirnya pada 1964 (pas usia 100 tahun), kebun binatang dipindah ke lahan seluas 85 ha di Ragunan. Sekarang, Kebun Binatang Ragunan menempati lokasi seluas 140 ha dengan 295 spesies dan 4040 spesimen!

https://www.daerahkita.com/artikel/74/koleksi-aneka-satwa-mamalia-dan-reptilia-kebun-binatang-ragunan-jakarta

https://www.kompas.com/tren/read/2019/09/22/135350965/dari-cikini-pindah-ke-ragunan-kisah-kebun-binatang-pertama-di-indonesia?page=all

http://jakarta.108jakarta.com/2012/06/kebun-binatang-cikini